Selasa, 02 Februari 2016

Cerpenku



Sepotong Kenangan di Ujung Senja
            Diam,Aku terDiam dalam keramaian suara gaduh orang-orang yang sibuk dengan dunianya sendiri, Ada yang lagi dengerin lagu-lagu barat, menyanyi, asyik nonton film, ada juga yang ngerjakan tugas, berdiskusi dan lain sebagainya. Tapi aku hanya  duduk menyendiri di bangku terdepan sambil mencoret-coret selembar kertas kosong.
            Beberapa hari ini tak ada pembicaraan sedikit pun dari Dia, apa sebabnya Aku pun juga tak tau, mungkin ini semua salahku yang terlalu ego.Aku sering ada konflik sama Dia, bahkan setiap minggu pasti ada aja masalah, tepatnya tiap hari Selasa. Ada apa dengan Selasa?Aku dan Dia sudah berhati-hati dalam berbicara, bertindak bahkan tidak berkomunikasi sedikitpun. Semua itu kami lakukan agar nggak ada salah paham Diantara kita.tapi sepertinya semua itu sia-sia,pasti ada aja masalah,paginya bahagia, malamnya nangis,hal itu sudah biasa kami alami.
            Tapi kali ini benar-benar menyakitkan,sampai hari Kamis masih belum baik juga.di kelas saling acuh,seperti tak pernah ada apa-apa.uuppss…..iya emang kami nggak ada apa-apa.walaupun seribu kali Dia bilang I LOVE YOU,dan kini aku pun juga mencintainya tapi tetap,kami berdua tidak memiliki hubungan,maksudnya berpacaran.kami memutuskan untuk tidak berpacaran,tapi bukan berarti kami tidak  saling mencintai dan menyayangi,bagi kami berpacaran itu hanya status hubungan,hal itu tidak terlalu penting.
            “Hey,kenapa kamu Fa?Bengong Aja..”.Tanya Zahra padaku. Zahra adalah salah satu teman dekatku,waktu kelas X, kami belum mengenal, semenjak kami sama-sama masuk jurusan IPA,kami kenal lebih akrab,khususnya waktu akhir semester satu di kelas XI,waktu itu aku minta tolong ke Dia untuk bantu aku ngerjakan tugas fisika, sambil mengerjakan tugas,sambil curhat ke Dia.Dia satu-satunya orang yang tau perasaanku ke Rama,pertama kali Aku bilang kalau Aku jatuh cinta pada Rama itu ke Zahra.
            “Nggak ada apa-apa Za.” Sambil menyelipkan kertas kosong itu ke laci bangku dan memberikan sedikit senyuman untuknya,seolah-olah pertanda bahwa Aku baik-baik saja.”Ya udah kalo nggak ada apa-apa,aku pulang dulu ya..!”.Zahra meninggalkan kelas,sementara Aku masih duduk terDiam sambil menunggu Annisa keluar dari kelasnya karena Aku selalu berangkat bareng Annisa ke sekolah.
            Senja di sore itu benar-benar membuat aku rapuh, hanyut dalam kenangan-kenangan indahku bersamanya, teringat akan masa-masa itu,bahagia itu, Aku rindu kata-kata cintanya,aku rindu kasih sayangnya,kini semua itu hanya ada dalam ingatan yang semakin lama semakin menyakitiku.fikiranku tak bisa lari dari sosok Dia yang selalu membuat hari-hariku menjadi indah,Dia yang mengubah awan mendung menjadi pelangi. Sambil duduk di taman depan kelas,memandang sungai dan mendengar gemercik suara air,aku jadi teringat ketika Dia membuat Perahu kertas dan menghanyutkannya ke sungai itu,kemudian Aku dan Dia sama-sama berlari mengejar perahu itu, karena Aku tahu ada sesuatu yang Dia tulis di perahu itu.”Yeee…Aku dapat??”teriakku senang sambil meledek Rama, karena Aku berhasil mendapatkan perahu itu.perlahan-lahan aku buka kertas itu,aku harap tulisannya masih bisa di baca,walaupun sudah basah terkena air.
Meneteslah air mata bahagiaku ketika membacanya,Aku tak menyangka Rama  menulis itu.“Bahagiaku jalani hari-hari bersamamu.Suka,duka,senang,sedih menjadi emosi yang terluap, Sejauh mana hati ini pergi ,Rasa yang sama tetap pada orang yang sama jua,Setinggi apa aku berdiri,Tetap pada cintamulah aku berpijak,Segelap apapun mata ini melihat,Tetap pada cintamulah aku berpegang,Tak apalah biar sakit kurasa,Karena ku yakin semua itu kan, menjadi senja belaka,Dan hilang ditelan gelap, Dan saat itu aku rindu akan sang fajar
            “Mbak farra….ayo pulang,sudah sore ini”.Teriak Annisa dari depan kelasnya dan membangunkanku dari lamunanku.”Iya sa..tak tunggu di parkiran.!”.Lalu aku berjalan meninggalkan taman dan menuju ke tempat parkir sepeda.Sudahlah,Aku tak ingin larut dalam kesedihan,Aku ingin seperti peri kecil.Peri kecil yang terbang dengan sayap-sayap yang indah,peri kecil yang riang walupun kesepian.Semoga esok menjadi lebih baik , kesedihanku usai dan berganti dengan kebahagian bersamanya.
            10 menit kemudian Aku sampai di rumah,Aku bergegas mandi dan bersih-bersih rumah.tak lama kemudian suara adzan maghrib terdengar dari musholla sebelah rumahku,lalu bergegas ku ambil air wudhu dan mendekat kepada Sang Pencipta.
            Setelah sholat maghrib,ku ambil sebuah Handphone dari almariku.orang tuaku tak mengizinkan aku menggunakan Handphone,Alasanya sih katanya Biar nggak terlalu mikir pelajaran,katanya tubuhku semakin kurus karena terlalu banyak mengerjakan tugas hingga larut malam.tapi untungnya Kakakku mengizinkanku,hingga Dia berikan salah satu Handphonenya untukku,jadi aku masih tetap bisa berkomunikasi dengan teman-temanku walaupun secara sembunyi-sembunyi.
            Lalu ku ketik sebuah pesan singkat dan ku kirimkan ke Zahra.ehmm…sebenarnya sih pesan itu bukan buat Zahra,tapi Aku cuma ingin meluapkan perasaanku kepada sahabatku.”Sabar menunggu yang bisa ku lakukan,Tuhan…Sungguh ku tak bisa berdusta untuk hati ini,jika ku merindukannya,apa Dia juga sama seperti apa yang ku rasa..?”.itulah pesan yang ku kirimkan ke Zahra,kemudian kami saling sharing satu sama lain hingga larut malam.
            Keesokan harinya,tepatnya hari jum’at tanggal 13 September 2013,Masih tetep Diam-Diaman aku sama Dia,Aku merasa seperti orang asing yang nggak pernah Dia kenal,inginku mengawali pembicaraan tapi sungguh Aku tak berani,karena setiap Aku berbicara,menatap matanya,hilang sudah apa yang mau aku omongin,karena setiap aku menatap matanya,Aku merasa ada kedamaian dalam hati,jiwa dan hidupku.
“Rama,kamu kenapa sich?”Tanya ku pada Rama.”Nggak ada apa-apa Fa.”jawab Rama sambil membereskan buku-buku pelajaran yang berantakan di bangkunya dan sepertinya Dia mau pulang.”Tapi kamu nggak kayak biasanya Rama,Aku salah ya?Maafin Aku ya.”Tanya ku lagi pada Rama,sambil berusaha untuk mengajak Rama berbicara baik-baik.”Fa,Aku dah nggak punya Cinta lagi buat kamu.”Satu jawaban yang sangat menyakitkan untukku,Aku nggak nyangka kata-kata itu terucap dari bibirnya,Rama yang ku kenal adalah sosok pria yang paling sabar menghadapi Aku yang super cerewet.Apa kata-kata itu benar-benar dari hatinya??Sungguh itu sangat menyakitkan.Dia meninggalkanku disaat Aku Benar-benar mencintainya.Ada apa denganya?meninggalkan hati hanya untuk di caci.
            Aku tak bisa menahan Air mataku yang terus mengalir.bahkan ketika Aku sholatpun tetap mengalir.dalam anganku hanya ada Rama,mengapa Dia berkata seperti itu?padahal satu minggu sebelumnya Dia menyatakan cinta kepadaku lewat sepotong coklat dan sepucuk surat bertuliskan “Aku cinta kamu dari dulu fa?mau nggak kamu jadi pacarku?” yang Dia letakkan di meja bangkuku.
            Kini sepertinya sudah menjadi kenangan,kata “I miss you when I can’t see you” seperti sudah menjadi kamus yang hanya untuk di baca,Aku tak percaya lagi dengan “I fall in love with you when I see you” yang setiap kali Dia ucapkan kepadaku.Hancur sudah mimpi-mimpi itu,bahagia itu,kedekatan kami hampir lebih dari 2 tahun kini hanya meninggalkan kenangan pahit dan Dia pergi dariku.Setelah sholat dhuhur Aku bergegas pulang,sudahlah tempat ini hanya mengingatkanku akan Rama,Aku tak ingin menangis lagi,Aku tak ingin orang lain melihat kesedihanku,begitupun juga Rama,semoga Dia menemukan kebahagiaannya.
            Keesokan harinya,“Teettt……” bell masuk sudah berbunyi,hari ini aku berangkat agak kesiangan,Aku pun bergegas menuju kelas.berat rasanya ku langkahkan kakiku,seperti ada yang hilang dari diriku,semangatku tiba-tiba memudar,entah karena apa,mungkin karena masih terasa sakit atas kejaDian kemarin yang menimpaku.
            Sebelum tiba di kelas,Aku bertemu dengan Zahra. Tak tahan ingin ku curahkan semua perasaanku. Aku pun terus terang bilang ke Zahra.”Za,Aku dah tau Za,ternyata Dia sama saja sama cowok-cowok lainnya, Aku dah nggak percaya lagi Za sama Dia”.”maksudmu..?”.tanya Zahra.”kemarin Dia bilang dah nggak cinta lagi sama Aku”.”Apa??nggak Farra.itu nggak mungkin,pasti ada sesuatu.Aku rasa akhir-akhir ini Dia aneh,lebih emosian, Angkuh, Sombong,entahlah..sepertinya sosok Rama yang konyol dan humoris hilang dari dirinya.” Jawab Zahra dengan ekspresi kaget dan bingung.”Sudah Za,Aku nggak mau lagi,Aku dah nggak percaya lagi sama Dia. Sudah cukup Dia buat Aku seperti ini”.Zahra mempercepat langkahnya dan mendahuluiku,sepertinya ada yang Dia mau lakukan.Mungkin aja Dia konfirmasi masalah ini ke Rama,karena setauku Dia juga deket sama Rama.
            Setelah pelajaran usai Aku melihat  Rama dan Zahra ngobrol,tak berapa lama kemudian Aku menghampiri mereka.Aku,Rama,dan Zahra saling sharing atas masalah ini.”Maafin aku Farra,Aku nggak bermaksud nyakiti kamu,Aku ingin  Cinta kamu lagi Farra.Aku ingin cinta itu ada lagi dalam hatiku.Aku tau farra.aku dah keterlaluan sama kamu,bukan maksud aku tak mau mengawali pembicaraan ini sama kamu.tapi aku malu farra,aku malu sama kamu,dah banyak janji yang aku ingkari farra.bisakah aku melihat senyum kecil dari wajahmu lagi farra?jika kamu merasa ini sakit,izinkan Aku mengobatinya Farra.”begitulah penjelasan Rama ke Aku.Tangis pecah pun terjadi di antara kami,Zahra pun iku menangis tersedu, Zahra menangis di pundaknya Rama, Dia bilang “Aku sedih bukan karena hilangnya cinta itu,tapi karena aku kehilangan temen yang namanya Rama”.”nggak Zahra,Aku kan tetep jadi Rama,kemarin-kemarin itu bukan Aku Za, Aku juga tak mengerti kenapa Aku menjadi sosok aneh seperti itu,aku baru sadar kemarin Za,waktu kamu kirim pesan ke Aku”.
            Tak ada suara lain selain Aku,Rama dan Zahra di kelas,teman-teman sudah pulang .hanya terdengar suara tangis dariku dan Zahra.hembusan angin merasuki jiwa membawa kedamaian,suasana menjadi hening sesaat.Entah kenapa perasaanku kini berubah,kemarin Aku sangat membenci Rama,tapi kini Aku melihat kejujuran,kesungguhan dalam dirinya dan aku pun membuka hati lagi untuk Rama.
            Jam menunjukkan pukul setengah lima sore,tersadar kita belum menunaikan sholat Ashar.lalu Aku,Rama,dan Zahra bergegas membereskan buku-buku dan segera memasukkannya ke tas lalu berangkat menuju masjid. Dengan mata masih sembab aku Ambil air wudhu,ku basuh wajahku beberapa kali, Aku tak ingin terlihat seperti orang sedih yang habis nangis dan Aku pun tak ingin orang tuaku tahu masalahku. Lalu kami bertiga pun menunaikan sholat Ashar dan Rama menjadi imam untuk Aku dan Zahra.
            Perlahan-lahan matahari mulai menyembunyikan sinarnya, Angin senja membawa kedamaian, indahnya langit senja seolah-olah menggambarkan kebahagiaan kita. Senja sore itu menjadi senja yang tak pernah ku lupakan,Seperti debu yang hilang setelah angin menghapusnya,seperti batu karang yang  kokoh walaupun ombak menerjangnya,setelah hujan,setelah badai maka di situ ada pelangi, setelah ada kesulitan,setelah ada kesedihan maka di situ ada Harapan.
^SELESAI^
















Cita-cita

Masih ingatkah cita-cita pertama kali yang kita ucapkan?waktu TK ditanya sama bu guru."Nanti kalian mau jadi apa?",anak-anak ada yang menjawab "Jadi guru, polisi,  dokter, perawat, pramugari, tentara dll" , dengan semangat,senyum ceria mereka mengatakannya. Lalu mereka masuk SD,kelas 1,2,3,4 mungkin masih sama jawabannya, kelas 5,6 mereka bisa sedikit berfikir lagi,mereka sudah tahu bagaimana dokter,bagaimana guru,bagaimana polisi,mungkin sebagian dari mereka ada yang berubah cita-citanya,bahkan seingat waktu jaman saya dulu, ketika saya mengatakan "saya mau jadi Guru", teman-teman sekelas menertawakan,guru saya pun juga meragukan.itu terjadi saat kelas 5 SD, sedangkan saya melihat teman-teman yang lain ketika ditanya,mereka hanya tersenyum tanpa jawaban. Nah disini mulai turunlah semangat belajar.kemudian masuk SMP,lebih bisa berfikir lagi,tapi ya masih berfikir tingkat SMP. Masih ingat juga ada salah satu teman yang bilang "kamu pasti masih ingin jadi guru".;"iya,kamu",:"aku cuma ingin jadi "manusia" selamanya";. sedikit agak aneh,tapi coba pahami.
kemudian masuk SMA, nah ini..masa2 ababil, dengan pertimbangan kemampuan dan pekerjaan rata2 mereka memutuskannya. yang dulunya guru jadi dokter,yang dulunya polisi jadi guru, seringkali berubah-ubah,apalagi bulan-bulan ini,coba tanya anak SMA, sekarang bilangnya A,bulan depan bilang B,bulan depan bilang C.kadang snmptn,sbmptn,jurusan yang mereka ambil berbeda,saat-saat itu menjadi saat yang paling kritis dalam menentukan pilihan.bisikan dari kanan,kiri,orang tua,dan diri sendiri mewarnai pikiran kita.
Ikuti kata hatimu, kemampuanmu,dan mintalah petunjukNya. Tak usah memikirkan cita-cita,tak usah memikirkan pekerjaan, ambil hikmahnya,ambil manfaatnya,pikirkan apa yang kamu bsa lakukan atau apa yang bisa kamu berikan.cita-cita adalah tolak ukur,buat setinggi-tingginya,agar kamu berusaha.