Sepotong Kenangan di Ujung Senja
Diam,Aku
terDiam dalam keramaian suara gaduh orang-orang yang sibuk dengan dunianya
sendiri, Ada yang lagi dengerin lagu-lagu barat, menyanyi, asyik nonton film, ada
juga yang ngerjakan tugas, berdiskusi dan lain sebagainya. Tapi aku hanya duduk menyendiri di bangku terdepan sambil
mencoret-coret selembar kertas kosong.
Beberapa
hari ini tak ada pembicaraan sedikit pun dari Dia, apa sebabnya Aku pun juga
tak tau, mungkin ini semua salahku yang terlalu ego.Aku sering ada konflik sama
Dia, bahkan setiap minggu pasti ada aja masalah, tepatnya tiap hari Selasa. Ada
apa dengan Selasa?Aku dan Dia sudah berhati-hati dalam berbicara, bertindak
bahkan tidak berkomunikasi sedikitpun. Semua itu kami lakukan agar nggak ada
salah paham Diantara kita.tapi sepertinya semua itu sia-sia,pasti ada aja
masalah,paginya bahagia, malamnya nangis,hal itu sudah biasa kami alami.
Tapi
kali ini benar-benar menyakitkan,sampai hari Kamis masih belum baik juga.di
kelas saling acuh,seperti tak pernah ada apa-apa.uuppss…..iya emang kami nggak
ada apa-apa.walaupun seribu kali Dia bilang I LOVE YOU,dan kini aku pun juga
mencintainya tapi tetap,kami berdua tidak memiliki hubungan,maksudnya
berpacaran.kami memutuskan untuk tidak berpacaran,tapi bukan berarti kami
tidak saling mencintai dan menyayangi,bagi
kami berpacaran itu hanya status hubungan,hal itu tidak terlalu penting.
“Hey,kenapa
kamu Fa?Bengong Aja..”.Tanya Zahra padaku. Zahra adalah salah satu teman
dekatku,waktu kelas X, kami belum mengenal, semenjak kami sama-sama masuk
jurusan IPA,kami kenal lebih akrab,khususnya waktu akhir semester satu di kelas
XI,waktu itu aku minta tolong ke Dia untuk bantu aku ngerjakan tugas fisika, sambil
mengerjakan tugas,sambil curhat ke Dia.Dia satu-satunya orang yang tau
perasaanku ke Rama,pertama kali Aku bilang kalau Aku jatuh cinta pada Rama itu
ke Zahra.
“Nggak ada apa-apa Za.” Sambil menyelipkan
kertas kosong itu ke laci bangku dan memberikan sedikit senyuman
untuknya,seolah-olah pertanda bahwa Aku baik-baik saja.”Ya udah kalo nggak ada
apa-apa,aku pulang dulu ya..!”.Zahra meninggalkan kelas,sementara Aku masih
duduk terDiam sambil menunggu Annisa keluar dari kelasnya karena Aku selalu
berangkat bareng Annisa ke sekolah.
Senja
di sore itu benar-benar membuat aku rapuh, hanyut dalam kenangan-kenangan
indahku bersamanya, teringat akan masa-masa itu,bahagia itu, Aku rindu
kata-kata cintanya,aku rindu kasih sayangnya,kini semua itu hanya ada dalam
ingatan yang semakin lama semakin menyakitiku.fikiranku tak bisa lari dari
sosok Dia yang selalu membuat hari-hariku menjadi indah,Dia yang mengubah awan
mendung menjadi pelangi. Sambil duduk di taman depan kelas,memandang sungai dan
mendengar gemercik suara air,aku jadi teringat ketika Dia membuat Perahu kertas
dan menghanyutkannya ke sungai itu,kemudian Aku dan Dia sama-sama berlari
mengejar perahu itu, karena Aku tahu ada sesuatu yang Dia tulis di perahu
itu.”Yeee…Aku dapat??”teriakku senang sambil meledek Rama, karena Aku berhasil
mendapatkan perahu itu.perlahan-lahan aku buka kertas itu,aku harap tulisannya
masih bisa di baca,walaupun sudah basah terkena air.
Meneteslah air mata bahagiaku ketika membacanya,Aku tak menyangka Rama menulis itu.“Bahagiaku jalani hari-hari bersamamu.Suka,duka,senang,sedih menjadi emosi yang terluap, Sejauh
mana hati ini pergi ,Rasa yang sama tetap pada orang yang
sama jua,Setinggi apa aku berdiri,Tetap
pada cintamulah aku berpijak,Segelap apapun
mata ini melihat,Tetap pada cintamulah
aku berpegang,Tak apalah biar sakit kurasa,Karena
ku yakin semua itu kan, menjadi senja belaka,Dan
hilang ditelan gelap, Dan saat itu aku rindu akan sang
fajar”
“Mbak
farra….ayo pulang,sudah sore ini”.Teriak Annisa dari depan kelasnya dan
membangunkanku dari lamunanku.”Iya sa..tak tunggu di parkiran.!”.Lalu aku
berjalan meninggalkan taman dan menuju ke tempat parkir sepeda.Sudahlah,Aku tak
ingin larut dalam kesedihan,Aku ingin seperti peri kecil.Peri kecil yang
terbang dengan sayap-sayap yang indah,peri kecil yang riang walupun kesepian.Semoga
esok menjadi lebih baik , kesedihanku usai dan berganti dengan kebahagian
bersamanya.
10
menit kemudian Aku sampai di rumah,Aku bergegas mandi dan bersih-bersih
rumah.tak lama kemudian suara adzan maghrib terdengar dari musholla sebelah rumahku,lalu
bergegas ku ambil air wudhu dan mendekat kepada Sang Pencipta.
Setelah
sholat maghrib,ku ambil sebuah Handphone dari almariku.orang tuaku tak
mengizinkan aku menggunakan Handphone,Alasanya sih katanya Biar nggak terlalu
mikir pelajaran,katanya tubuhku semakin kurus karena terlalu banyak mengerjakan
tugas hingga larut malam.tapi untungnya Kakakku mengizinkanku,hingga Dia berikan
salah satu Handphonenya untukku,jadi aku masih tetap bisa berkomunikasi dengan
teman-temanku walaupun secara sembunyi-sembunyi.
Lalu
ku ketik sebuah pesan singkat dan ku kirimkan ke Zahra.ehmm…sebenarnya sih
pesan itu bukan buat Zahra,tapi Aku cuma ingin meluapkan perasaanku kepada
sahabatku.”Sabar menunggu yang bisa ku lakukan,Tuhan…Sungguh ku tak bisa
berdusta untuk hati ini,jika ku merindukannya,apa Dia juga sama seperti apa
yang ku rasa..?”.itulah pesan yang ku kirimkan ke Zahra,kemudian kami saling
sharing satu sama lain hingga larut malam.
Keesokan
harinya,tepatnya hari jum’at tanggal 13 September 2013,Masih tetep Diam-Diaman
aku sama Dia,Aku merasa seperti orang asing yang nggak pernah Dia kenal,inginku
mengawali pembicaraan tapi sungguh Aku tak berani,karena setiap Aku
berbicara,menatap matanya,hilang sudah apa yang mau aku omongin,karena setiap
aku menatap matanya,Aku merasa ada kedamaian dalam hati,jiwa dan hidupku.
“Rama,kamu kenapa sich?”Tanya ku pada Rama.”Nggak ada apa-apa Fa.”jawab
Rama sambil membereskan buku-buku pelajaran yang berantakan di bangkunya dan
sepertinya Dia mau pulang.”Tapi kamu nggak kayak biasanya Rama,Aku salah
ya?Maafin Aku ya.”Tanya ku lagi pada Rama,sambil berusaha untuk mengajak Rama
berbicara baik-baik.”Fa,Aku dah nggak punya Cinta lagi buat kamu.”Satu jawaban
yang sangat menyakitkan untukku,Aku nggak nyangka kata-kata itu terucap dari bibirnya,Rama
yang ku kenal adalah sosok pria yang paling sabar menghadapi Aku yang super
cerewet.Apa kata-kata itu benar-benar dari hatinya??Sungguh itu sangat
menyakitkan.Dia meninggalkanku disaat Aku Benar-benar mencintainya.Ada apa
denganya?meninggalkan hati hanya untuk di caci.
Aku
tak bisa menahan Air mataku yang terus mengalir.bahkan ketika Aku sholatpun
tetap mengalir.dalam anganku hanya ada Rama,mengapa Dia berkata seperti
itu?padahal satu minggu sebelumnya Dia menyatakan cinta kepadaku lewat sepotong
coklat dan sepucuk surat bertuliskan “Aku cinta kamu dari dulu fa?mau nggak
kamu jadi pacarku?” yang Dia letakkan di meja bangkuku.
Kini
sepertinya sudah menjadi kenangan,kata “I miss you when I can’t see you”
seperti sudah menjadi kamus yang hanya untuk di baca,Aku tak percaya lagi
dengan “I fall in love with you when I see you” yang setiap kali Dia ucapkan
kepadaku.Hancur sudah mimpi-mimpi itu,bahagia itu,kedekatan kami hampir lebih
dari 2 tahun kini hanya meninggalkan kenangan pahit dan Dia pergi dariku.Setelah
sholat dhuhur Aku bergegas pulang,sudahlah tempat ini hanya mengingatkanku akan
Rama,Aku tak ingin menangis lagi,Aku tak ingin orang lain melihat
kesedihanku,begitupun juga Rama,semoga Dia menemukan kebahagiaannya.
Keesokan
harinya,“Teettt……” bell masuk sudah berbunyi,hari ini aku berangkat agak
kesiangan,Aku pun bergegas menuju kelas.berat rasanya ku langkahkan
kakiku,seperti ada yang hilang dari diriku,semangatku tiba-tiba memudar,entah
karena apa,mungkin karena masih terasa sakit atas kejaDian kemarin yang
menimpaku.
Sebelum
tiba di kelas,Aku bertemu dengan Zahra. Tak tahan ingin ku curahkan semua
perasaanku. Aku pun terus terang bilang ke Zahra.”Za,Aku dah tau Za,ternyata Dia
sama saja sama cowok-cowok lainnya, Aku dah nggak percaya lagi Za sama Dia”.”maksudmu..?”.tanya
Zahra.”kemarin Dia bilang dah nggak cinta lagi sama Aku”.”Apa??nggak Farra.itu
nggak mungkin,pasti ada sesuatu.Aku rasa akhir-akhir ini Dia aneh,lebih
emosian, Angkuh, Sombong,entahlah..sepertinya sosok Rama yang konyol dan
humoris hilang dari dirinya.” Jawab Zahra dengan ekspresi kaget dan
bingung.”Sudah Za,Aku nggak mau lagi,Aku dah nggak percaya lagi sama Dia. Sudah
cukup Dia buat Aku seperti ini”.Zahra mempercepat langkahnya dan
mendahuluiku,sepertinya ada yang Dia mau lakukan.Mungkin aja Dia konfirmasi
masalah ini ke Rama,karena setauku Dia juga deket sama Rama.
Setelah
pelajaran usai Aku melihat Rama dan
Zahra ngobrol,tak berapa lama kemudian Aku menghampiri mereka.Aku,Rama,dan Zahra
saling sharing atas masalah ini.”Maafin aku Farra,Aku nggak bermaksud nyakiti
kamu,Aku ingin Cinta kamu lagi Farra.Aku
ingin cinta itu ada lagi dalam hatiku.Aku tau farra.aku dah keterlaluan sama
kamu,bukan maksud aku tak mau mengawali pembicaraan ini sama kamu.tapi aku malu
farra,aku malu sama kamu,dah banyak janji yang aku ingkari farra.bisakah aku
melihat senyum kecil dari wajahmu lagi farra?jika kamu merasa ini sakit,izinkan
Aku mengobatinya Farra.”begitulah penjelasan Rama ke Aku.Tangis pecah pun
terjadi di antara kami,Zahra pun iku menangis tersedu, Zahra menangis di
pundaknya Rama, Dia bilang “Aku sedih bukan karena hilangnya cinta itu,tapi
karena aku kehilangan temen yang namanya Rama”.”nggak Zahra,Aku kan tetep jadi
Rama,kemarin-kemarin itu bukan Aku Za, Aku juga tak mengerti kenapa Aku menjadi
sosok aneh seperti itu,aku baru sadar kemarin Za,waktu kamu kirim pesan ke
Aku”.
Tak
ada suara lain selain Aku,Rama dan Zahra di kelas,teman-teman sudah pulang .hanya
terdengar suara tangis dariku dan Zahra.hembusan angin merasuki jiwa membawa
kedamaian,suasana menjadi hening sesaat.Entah kenapa perasaanku kini
berubah,kemarin Aku sangat membenci Rama,tapi kini Aku melihat
kejujuran,kesungguhan dalam dirinya dan aku pun membuka hati lagi untuk Rama.
Jam
menunjukkan pukul setengah lima sore,tersadar kita belum menunaikan sholat
Ashar.lalu Aku,Rama,dan Zahra bergegas membereskan buku-buku dan segera
memasukkannya ke tas lalu berangkat menuju masjid. Dengan mata masih sembab aku
Ambil air wudhu,ku basuh wajahku beberapa kali, Aku tak ingin terlihat seperti
orang sedih yang habis nangis dan Aku pun tak ingin orang tuaku tahu masalahku.
Lalu kami bertiga pun menunaikan sholat Ashar dan Rama menjadi imam untuk Aku
dan Zahra.
Perlahan-lahan
matahari mulai menyembunyikan sinarnya, Angin senja membawa kedamaian, indahnya
langit senja seolah-olah menggambarkan kebahagiaan kita. Senja sore itu menjadi
senja yang tak pernah ku lupakan,Seperti debu yang hilang setelah angin
menghapusnya,seperti batu karang yang
kokoh walaupun ombak menerjangnya,setelah hujan,setelah badai maka di
situ ada pelangi, setelah ada kesulitan,setelah ada kesedihan maka di situ ada
Harapan.
^SELESAI^